MEMBAHAS masalah narkoba, seperti tidak ada habisnya. Karena barang laknat tersebut telah menyusup masuk ke semua lini, lalu mencengkeram penggunanya. Mulai dari masyarakat ekonomi kelas bawah, hingga kalangan berduit tak lepas dari cengkeraman narkoba. Mulai eksekutif, legislatif, yudikatif, polisi bahkan lingkungan militer juga disasar.

Seperti menu makanan, aneka narkoba dengan berbagai varian baru, juga banyak ditawarkan bandar. Terbaru, Polda Metro Jaya membongkar sindikat ‘Reborn Cartel’ yang memproduksi liquid vape ekstasi dan bermarkas di sebuah apartemen. Konsumen yang dibidik dari kalangan berduit, karena dijual seharga berkisar Rp350 ribu hingga Rp450 ribu perbotol.

Bagi pecandu dari ekonomi kelas bawah lain lagi. Pemadat tak berduit mencari cara sendiri
untuk memenuhi keinginan ‘fly’ atau mabuk narkoba. Seperti ‘ngelem’ bagi anak-anak atau remaja jalanan, bahkan juga pelajar, jadi pilihan. Fenomena menghirup lem bukan hal baru karena telah bertahun-tahun berlangsung.

Fenomena terbaru yang kini mulai menjadi trend, remaja di sejumlah daerah, antara lain Jawa Tengah (Grobogan, Kudus, Pati, Semarang) dan Jawa Barat (Karawang) menenggak air rebusan pembalut wanita sebagai bahan baku pengganti narkoba buat nge-fly. Mereka bereksprimen dan mencari bahan alternatif yang murah dan mudah didapat untuk mabuk.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menduga, gejala ‘minum pembalut’ sudah merambah ke Jabodetabek. Belum ada penelitian resmi kandungan kimia di pembalut wanita yang bias membuat fly. Tetapi diperkirakan kandungan klorin dan kloroform pada gel di dalam pembalut, bisa membuat mabuk bila air rebusan diminum. Apa pun kandungan kimia dari air rebusan tersebut, yang jelas ini membahayakan.

Fenomena ini tidak bisa dibiarkan. Pemerintah melalui lintas instansi harus cepat merespon gejala menyimpang tersebut. Terlebih perilaku menyimpang ini dilakukan oleh anak-anak usia belasan tahun. Ini tidak bisa dibiarkan, karena kecanduan nge-fly menggunakan bahan baku murah meriah, selain mengancam kesehatan juga menjadi pintu masuk bagi mereka menggunakan narkoba.

Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, lembaga pemerhati anak hingga aparat penegak hukum harus segera turun tangan. **