VIVA – Lebih dari sepekan, gempa bumi terus menerus mengguncang wilayah Mamasa, Sulawesi Barat. Meski tidak menimbulkan kerusakan yang signifikan, namun gempa membuat warga khawatir dan harus mengungsi.

Tercatat ada ribuan jiwa yang terpaksa harus mengungsi akibat gempa yang terus terjadi. Guna mengantisipasi kepanikan yang terus berlanjut, tim ahli dari Badan  Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Majene, Sulbar, melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di Mamasa.

Tim telah melakukan peninjauan langsung ke salah satu titik gempa yang terletak di Desa Kariango, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa. Berdasarkan koordinat yang ada, gempa dengan magnitudo 5,2 telah terjadi di wilayah ini pada Sabtu dini hari, 10 November 2018.

Selain memastikan kondisi wilayah yang diterjang gempa, tim BMKG juga memberikan informasi kepada masyarakat terkait informasi bohong soal tanah retak dan longsor akibat gempa.

"Tim ahli BMKG yang ditemani puluh warga sudah melakukan pemantauan dan tidak ditemukan hal tersebut," kata Kaharuddin, salah satu tim ahli kegempaan BMKG, saat dihubungi pada Minggu, 11 November 2018.

Karena itu, Kaharuddin mengimbau kepada masyarakat di Mamasa tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar di sosial media tentang dampak gempa yang terjadi selama sepekan ini.

"Warga diharapkan hanya mempercayai informasi dari pemerintah dan badan resmi," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Kariango, Paulus menyampaikan, hampir sebagian besar masyarakat Mamasa telah mempercai isu bohong terkait kondisi alam paska gempa terjadi. Meski banyak informasi bohong beredar, tapi Paulus tidak mempermasalahkan warga yang mengungsi.

"Memang ada warga yang meninggalkan Mamasa. Mereka Tinggal di Mamuju dan Polewali Mandar," katanya.

Hingga hari ini, BNPB daerah Kabupaten Mamasa mencatat tidak kurang dari 15.000 warga yang mengungsi dan tinggal di luar rumah. Mereka tersebar di 14 titik lokasi pengungsian yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat.


Laporan: Abdul Rahman, Mamasa, Sulawesi Barat.