FARDO, 40, memang terlalu pede. Kerja dengan gaji kecil saja, berani-beraninya punya WIL segala. Ya gara-gara tekanan ekonomi dari dua penjuru itulah, dia jadi ribut melulu dengan sang WIL, Mardini, 34. Tiap hari ribut di rumah kost, akhirnya jadi urusan RT. Maka terbongkarlah program “slendro-pelog” si Fardo.

Agaknya kaum lelaki itu memang punya “naluri” poligami, sebagai dampak karakter pembosan. Kalau barang, jika sudah bosan dibuang dan beli yang baru lagi. Tapi kalau perempuan (istri) tidak bisa begitu. Menceraikan bukan perkara mudah, karena berdampak pada anak keturunan. Paling praktis ya poligami, dan di dalam Islam ada ruang untuk itu. Tapi itu kalau mampu (Qur’an surat Anisa ayat 3). Kalau tidak, banyak yang nekad punya WIL.

Fardo warga Surabaya, agaknya punya kiat semacam itu. Punya bini jaka lara (dari gadis), ternyata tidak ngrejekeni. Sampai punya beberapa anak, hidupnya masih saja miskin. Padahal kata orang, banyak anak banyak rejeki. Tapi Fardo, banyak anak ya malah banyak masalah. Maksudnya tentu saja, masalah………..keuangan!

Pekerjaan yang digelutinya sekarang, sesungguhnya yang mencarikan juga mertua sendiri, lewat koneksi pada seseorang. Habisnya, mencari sendiri juga tak kunjung dapat. Maka meski gaji kecil, tetap saja Fardo harus menekuni ketimbang jadi pengangguran abadi.

Tapi ketika WIL sudah jadi “naluri”, dalam kondisi rejeki pas-pasan itu Fardo masih juga memikirkan. Di sela-sela pekerjaanya dia punya cantolan janda muda, Mardini yang mau diajak hidup melarat. Maksudnya, janda itu tak menuntut macam-macam, bahkan diajak kumpul kebo di rumah kos-kosan pun tak keberatan.

Begitulah, Fardo biasa begituan dengan Mardini di rumah kos-kosan di luar ikatan nikah resmi. Kawin siri juga tidak. Polosan sajalah, yang penting nikmat mupangat, tak peduli itu melanggar syariat. Dalam seminggu Fardo bisa menggilir 2 kali. Kepada istrinya di rumah beralasan, tugas luar kota. Padahal aslinya, tugas “luar dalam”.

Sudah setahun Fardo dan Mardini sebagai praktisi kumpul kebo di rumah kos-kosan. Lama-lama janda Mardini rupanya bosan juga dengan statusnya yang mengambang. Maka asal Fardo datang dia selalu menuntut dinikah resmi. Tapi Fardo hanya menjanjikan melulu, tanpa ada niat untuk mengeksekusi. “Aku butuh surat Mas, jangan cuma buka aurat,” kata Mardini setiap mengawali keributan.

Kenapa Fardo enggan menikahi WIL-nya, karena tak enak sama istri di rumah. Dia bisa kerja juga karena jasa mertua. Kalau dia kawin lagi, sama saja susu dibalas dengan air miras oplosan. Tak etislah pokoknya. Jelek-jelek begini dia juga punya moral, berkat revolusi mental.

Beberapa hari lalu kembali Fardo dan Mardini gegeran, sampai mengadopsi kata-kata gendruwo dan sontoloyo. Tetangga yang bosan dengan kegaduhan itu lalu lapor Pak RT. Pak RT pun bertindak, dan diketahuilah bahwa keduanya hanya kumpul kebo. “Sekarang gini saja Mas, pilih tak laporkan ke polisi atau ke istrimu?”

Dipojokkan dengan opsi yang membahayakan tersebut, paling aman Fardo milih dilaporkan ke istri saja. Benar saja, dalam tempo 2 jam istri dan mertuanya datang dan memaki-maki Fardo. Mertua minta Fardo menceraikan istrinya, dan teman yang memberinya pekerjaan untuk Fardo, diminta memecatnya. “Sidang” di rumah RT selesai, tampak Fardo dan Mardini saling melambaikan tangan tanda perpisahan. Melihat adegan itu, anak kecil usia 3 tahun pun berceloteh dengan suara cedalnya, “Ee, ada Oom Faldo-Maldini…..”

Tapi yang ini bukan politisi muda PAN, lho….! (*/Gunarso TS)