VIVA – Di sebuah warung kopi, seorang pelayan baru saja mencatat pesanan sahabat saya yang laki-laki. Setelah itu, pandangannya beralih. Belum sempat saya memilih, sang pelayan nyeletuk, “Kakaknya mau apa? Green tea latte atau hot chocolate?” Saya memilih kopi tubruk.

Pada kesempatan lain, hal yang serupa terjadi. Ketika itu sedang mencoba sebuah kafe baru di daerah Kuningan, Jakarta. Saat sedang mencerna menu kopi, si barista menengahi dan mengarahkan saya kepada minuman non-kafein.

Pengalaman ini bukan sekali dua kali. Awalnya, ini mungkin cuma kebetulan. Tapi lama-lama kok rasanya tidak nyaman. Ternyata, memang ada seksisme di warung kopi, atau seksisme dan kopi. Sebuah pandangan yang menganggap bahwa perempuan tidak meminum kopi, melainkan minuman manis-manis saja, yang terkesan imut.

Baca Selengkapnya ...