SUAMI istri bila berkelahi seru juga rupanya. Suroyo, 47, dari Sidoarjo ini misalnya, karena dicemburui main perempuan, dia tempeleng bininya. Tapi Ny. Martiyah, 37, membalas dengan tendang suami punya onderdil. Saking sakitnya gantian Suroyo ambil martil dan digetokkan ke tengkuk istri. Ya matilah…..

Lelaki itu memang makhluk yang tak pernah puas. Sudah punya bini satu, pengin nambah lagi. Tapi karena takut poligami, bini  barunya hanya dikawin siri. Itu pun belum puas juga,  masih mencoba yang lain. Karena bosan dengan bini rasa melon dan anggur, mau coba pula yang rasa strawberi, padahal akhirnya malah jadi urusan polisi.

Suroyo yang asal Magetan (Jatim), sudah tiga bulan ini tinggal di Sidoarjo, bersama istri sirinya, Martiyah asal Brebes. Mereka tinggal di rumah kos-kosan daerah Taman, bersama kedua anaknya. Tak diketahui jelas, kedua anak itu bawan Suroyo, atau bawaan Martiyah, atau “patungan” satu-satu!

Yang jelas, Suroyo sampai meninggalkan keluarganya di Magetan karena cintanya kadung terkiwir-kiwir pada Martiyah. Tapi karena kondisi materil dan onderdil tak berbanding lurus, selama ini bini keduanya tersebut hanya dikawin siri. Ibarat kendaraan, kawin siri itu SIM sementara, tapi motor sudah bisa dicemplak, tak sekedar main klakson.

Tapi rupanya Suroyo ini memang lelaki pembosan. Sudah punya isrtri siri, masih tergoda perempuan lain di kawasan Sidoarjo. Lama-lama Martoyah mencium juga bau perselingkuhan suaminya itu. Indikasinya, tak semua penghasilan diserahkan istri, ada yang dialirkan ke pihak lain.

Beberapa hari lalu di rumah kos-kosan suami istri ini ribut. Martiyah menuduh Suroyo punya WIL lagi, buktinya rumahtangganya selalu mengalami defisit anggaran. Sontoloyo, maki Suroyo. Tapi Martiyah membalas, “Kamu juga gendruwo!” Suroyo pun naik spaneng, istrinya ditampong (dipukul pipinya), pletakkk! Karena sakit, gantian Martiyah membalas dengan menendang “burung” Suroyo yang suka nyanyi trilili itu.

Suroyo pun mengaduh, karena burungnya yang sedang angrem itu langsung kena telurnya. Kebetulan di dekat mereka baku hantam terlihat martil. Langsung saja disambar. Saking emosinya, martil pencabut paku itu langsung dipukulkan ke tengkuk istrinya, pletakkk! Martiyah langsung ambruk tanpa njaluk banyu (baca: tewas seketika).

Para tetangga berdatangan. Ada yang melarikan Martiyah ke RS, ada pula yang panggil polisi. Tanpa perlawanan Suroyo pasrah saja saat dijemput polisi Polsek Taman.
Dalam pemeriksaan dia mengaku marah, karena istri berani menendang dia punya burung.

Kasihan si burung kakak tua, bakal hinggap di penjara. (Gunarso TS)