JADI istri tenaga survei awalnya Ratih, 28, bangga sekali. Tapi surveyor macam Burhan Kucluk, 35, suaminya ternyata hanya tenaga musiman, sehingga banyak nganggurnya. Dia jarang dikasih benggol (uang), yang rutin justru “bonggol”-nya. Lama-lama Ratin pun bosan dan solusinya: minta cerai!

Tenaga survei pasti erat hubungannya dengan lembaga survei. Bedanya adalah, lembaga survei pihak yang menyuruh, sedangkan surveyor orang yang disuruh. Dengan sendirinya tingkat rejekinya berbeda, pasti lebih besar pemilik ketimbang karyawannya. Tapi karena setiap pilkada lembaga survei selalu dibutuhkan, surveyor pun ikut renes (terjamin).

Karena itulah Ratih kala itu bangga sekali dipacari Burhan Kucluk, seorang pemuda surveyor. Setiap pilkada si doi sibuk sekali, datangi setiap TPS catat ini catat itu, tanya ini tanya itu. Siapa tahu Burhan Kucluk nantinya bisa bernasib seperti Burhanudin Muhtadi pemilik lembaga survei LSI. Di musim kampanye sering jadi narasumber di TV, ngomong politik memprediksi setiap kontestan Pilpres.

Tapi setelah benar-benar menikah, Burhan Kucluk ternyata jadi jauh beda dengan yang dia bayangkan. Suaminya ini boro-boro suka muncul di TV, ngomong politik juga tidak pernah. Tugas survey juga jarang-jarang, sehingga jarang pula dapat uang. Yang rajin justru survei di kamar, dengan responden Ratih sendiri. Keruan saja margin eror-nya nol persen, karena coblosannya di TPS pasti akurat dan tepat!

Padahal mustinya, sebagai suami antara benggol dan bonggol harus berbanding lurus aliar seimbang. Tapi Burhan Kucluk bukan begitu, benggolnya jarang-jarang, bonggolnya digeber terus. Apalagi bila tiba malam Jumat, nyaris Ratih tak boleh ke mana-mana. Sebab katanya, jalankan “sunah rosul” di malam itu pahalanya seperti bunuh 40 orang kafir. Ee, ternyata malam Minggunya minta lagi, sehinga Ratih ngedumel, “Oalah Mas, yang kemarin saja belum selesai dikubur, sudah mau membunuh lagi!”

Sering sekali Ratih menyarankan, agar Burhan Kucluk cari kerja yang permanen, toh punya ijazah sarjana. Tapi suami menolak, karena perusahaan sering tak menghargai dia sebagai cendekiawan. Tentu saja Ratih kesal. “Sampeyan bukan cendekiawan Mas, tapi cendek-awan. Nek awan cendek, nek bengi dawa (jika siang pendek, malam panjang)” potong Ratih saking jengkelnya.

Meski sering dinasihati dan dikritik istri, Burhan Kucluk tak mau juga mengubah diri. Akhirnya Ratih capek juga, sehingga jawab dan solusinya hanya satu: cerai. Beberapa hari lalu dia mendatangi kantor Pengadilan Agama Surabaya untuk proses perceraiannya.

Cepetan nikah lagi ya Mbak, biar dapat Kartu Nikah seukuran KTP. (*/Gunarso TS)